• Thu. Feb 2nd, 2023

Sejarah GKPPD

ByGKPPD PUSAT

Mar 19, 2022

Rasa takjub besar tatkala orang beriman menyaksikan kasih Allah  kepada dunia ini.  Kasih terbesar, Allah telah mengaruniakan Putera-Nya Yesus Kristus bagi keselamatan manusia percaya (bnd. Yohanes 3:16).  Tak hanya itu, hari lepas hari sejangkau masa, Allah selalu melindungi ciptaan-Nya dengan kasih-setia.  Patutlah umat manusia berdendang jiwa seperti pengharapan Nabi Yeremia, “ Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!,  TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. (Rat 3 : 22-24). Dan sudah selayaknya segenap insan  membahanakan kidung pemazmur, “ Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit.”(Mzm 148 : 3).

Kasih Allah tidak terbatas kepada satu bangsa,  suku pun satu marga melainkan,  telah dicurahkan kepada semua bangsa, suku  dan  marga  agar melalui itu seluruh umat menerima  keselamatan yang disediakan Allah oleh iman (Mat 28:19; Yoh. 3: 16). Itulah Injil—Injil keselamatan;  Injil Kerajaan Allah—di dalam diri Yesus Kristus.

Keselamatan  besar itu sendiri diwartakan untuk diterima umat manusia  dan pemberitaan itu sudah berlangsung  berabad-abad lamanya hingga saat ini. Melewati kelindan sejarah bahkan belantara perjuangan iman itulah napak tilas penginjilan sepanjang masa.  Tetapi Allah selalu berkarya lewat penderitaan dan pergumulan itu. Penyertaan-Nya yang luar biasa serta ajaib menyapa dan menyentuh semua bangsa melalui adat, budaya dan bahasanya.  Tuhan selalu menepati janji-Nya, “Aku menyertai kamu sampai akhir aman,”  ( Mat. 28 : 20).  Adalah Suku Pakpak. Tuhan mengaruniakan lima suak wilayah tempat mereka berdiam yang kemudian menjadi nama suaknya: Pakpak Simsim, Pakpak Keppas, pakpak, Pegagan, Pakpak Klasen dan Pakpak Boang. Tatkala pekabaran injil yang datang, orang Pakpak telah banyak menyambutnya. Interaksi dan akulturasi Injil menjadikan suku Pakpak sudah memuji dan memuliakan Tuhan dengan adat, budaya serta  bahasanya.  Disadari memang, bahwa begitu banyak tantangan dan hambatan yang terjadi, akan tetapi Allah tetap berkarya dengan kuasa-Nya yang ajaib sehingga berita Injil sudah menjadi bagian dan jati diri suku Pakpak—negeri mertampuk bulung merbenna sangkalen yang indah ini.   Kenyataan itulah yang disadari sehingga thema Jubileum pesta Oang Oang 25 tahun GKPPD berbunyi: Poji mo Debata ipas pemakinna simehejji I mendengani perdalanan GKPPD (Psalm 150:1-2).  Pun sejarah ini adalah pujian dan pengakuan atas semua karya Allah dalam tungkus lumus perjalanan GKPPD dua puluh lima tahun.


Sekilas Tentang Pakpak

Suku Pakpak adalah salah satu dari sekian banyak suku yang mendiami  Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebelum pemerintahan Belanda membaginya maka bisa kita bayangkan bahwa peta keberadaan Pakpak itu dimulai dari Kabupaten Dairi yang sekarang, Pakpak Bharat, Kota Madya Subulusalam (Provinsi Nangroe Aceh Darusalam), Kabupaten Singkil ( Provinsi Aceh Nanggroe Aceh Darusalam), sebahagian wilayah Humbang Hasundutan ( Kecamatan Parlilitan) dan sebahagian Tapanuli Tengah ( wilayah Barus hingga Manduamas).  Pdt. Dr. JR. Hutauruk Ephorus emeritus HKBP dalam konteks Sejarah Gereja Batak (mengutip ensiklopedia Amerika tahun 1800) mengatakan bahwa di Sumatera Utara hanya ada dua kelompok suku bangsa yang mendominasi: pertama, suku Batak mencakup Tapanuli (Toba), Simalungun, Mandailing.  Dan yang kedua suku Pakpak mencakup Pakpak, Karo, Gayo dan Alas.  Sangat mudah mengenalnya kedua kelompok suku tersebut ketika berinteraksi dalam kehidupan keseharian. Batak memakai kata “horas” sementara pakpak memakai “Njuah Njuah (mejuah juah). Memang antara Pakpak, Karo, Gayo dan Alas memiliki 75 % persamaan dalam perbendaharaan kata. Hanya dengan taktik pecah belah yang dibuat Belandalah kenyatan sekarang jadi berbeda.

Sebagaimana kita sebutkan di atas, bahwa dulunya seluruh wilayah itu merupakan satu kesatuan tapi kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda daerah-daerah itu dipisah- pisah untuk tujuan penguasaan. Sebahagian bergabung ke Nanggroe AcehDarusalam, sebahagian bergabung ke Tapanuli Tengah, sebagian lagi ke Tapanuli Utara (kemudian Kabupaten Humbahas).

Sebelum pemekaran kabupaten Pakpak Bharat, Kab. Dairi oleh Pemerintah Kolonial Belanda menyebut kabupaten Dairi (tanah Pakpak yang kita kenal sekarang) dengan sebutan “Onderafdeling Dairilanden”, yang dibagi kolonial Belanda menjadi tiga onderdistrict yaitu:

  1. Onderdistrict van Pakpak/Sidikalang,yang meliputi desa Keppas, desa Pegagan julu, desa Perbuluhen serta desa Silalahi/Paropo
  2. Onderdistrict van Simsim, yang meliputi, Desa Kerajan, Desa Siempat Rube, Desa Sitellu Tali Urang Jehe, Desa Salak, Desa Ulumerah serta Desa Salak—Penanggalen.
  3. Onderdistrict der Karo Kampung, yang meliputi Desa Lingga, Desa Tanah Pinem, Desa Pegagan Hilir, Desa Juhar Kedupan Manik serta Desa Lau Juhar.

Pemisahan demi pemisahan secara adminstrasi pemerintahan (politis) berhasil memecah  kesatuan dan persatuan suku Pakpak di masa itu, dan oleh karenanya segala bentuk perlawanan terhadap kolonial Belanda dapat dengan mudah diredam. Sekarang kelima suak  suku Pakpak ini masuk ke dalam wilayah-wilayah adminstrasi pemerintahan yang terpisah baik secara Propinsi maupun kabupaten, yang meliputi: Pakpak Simsim yang mendiami wilayah di kabupaten Pakpak Bharat, Pakpak Keppas mendiami wilayah di Sidikalang ibukota Kabupaten Dairi,  Pakpak Pegagan, mendiami wilayah di Kecamatan Sumbul, Pegagan Hilir dan Tiga Baru, Kabupaten Dairi, Pakpak Kellasen, mendiami wilayah di Parlilitan Kabupaten Humbang Hasundutan, dan akhirnya Pakpak Boang,mendiami wilayah di Kabupaten Aceh Singkil dan Kotamadya Subulussalam, Nangroe Aceh Darussalam. Kelima sub suku Pakpak tersebut mempunyai ciri khasnya masing-masing, baik dalam pemakaian bahasa, logat, adat dan budaya, tetapi scara umum perbedaan tersebut tidaklah terlampau kelihatan, dan boleh dikatakan hampir 95% sama di dalam pemakaiannya.

Sebelum masuknya agama Kristen dan Islam (yang menjadi agama mayoritas), diduga Wilayah pakpak telah mengenal dua agama. Agama pertama adalah Hindu, yang diduga masuk melalui Barus yang ribuan tahun  (jauh sebelum masuknya Islam ke Indonesa abad 13) oleh para pedagang dari India yang  bersemangat berdagang karena hasil Kapur Barus dan kemenyaan yang sangat berlimpah dan begitu penting bagi India. Sisa sisa ke Hinduan tersebut masih terasa dengan adanya Mejan (pertanda desa, dengan patung manusia mengendarai gajah), Mejan pada masanya dikenal sebagai tempat penyimpanan abu jenazah yang dibakar (sekremasi). Oleh karena itulah maka tidak kita temukan kuburan kuburan tua berusia ratusan tahun di wilayah Pakpak (berbeda dengan Toba).

Peninggalan lain yang bisa kita siasati adalah pemakaian penanggalan Pakpak yang sama persis dengan penanggalan Hindu seperti di Jawa dan Bali.  Demikian juga nama-nama yang juga sama dengan nama-nama hari Jawa Kuna :

NoIndonesia Pakpak Jawa Kuna 
Ahad/Minggu AntiaAditya 
Senin SumaSoma 
Selasa AnggaraAnggara 
Rabu Budhaha/MudaBuddha 
Kamis BeraspatiWrhaspati
Jumat CukerraÇukra
Sabtu Belah NaikÇanaiçcara

Kepercayaan kedua adalah kepercayaan berupa animisme dan dinamisme yang percaya dan mengimani akan adanya suatu kuasa dan kekuatan gaib pada tempat-tempat tertentu, akan tetapi seiring berjalannya waktu dan masuknya agama Kristen dan Islam perlahan-lahan kepercayaan tersebut menjadi hilang.


Kekristenan di Pegagan

Perkenalan suku pakpak akan kekristenan dimulai  dengan berdirinya Pardonganon Mission Batak (PMB), PMB berpusat di Tiga Ras Kabupaten Simalungun  yang dipimpin oleh Pdt. Henok Lumban Tobing.  PMB merupakan perpanjangan tangan dari Reinische Mission Geselschaft (RMG), dengan maksud dan tujuan untuk lebih menfokuskan diri akan pemberitaan Injil ke daerah-daerah yang ada di bagian utara yaitu Samosir, Simalungun dan Pakpak Dairi.

Sebagai realisasi atas pendirian tersebut maka pada tanggal 7 September 1905, diutuslah Pdt. Samuel Panggabean  untuk memberitakan Injil ke tanah Pakpak, rute perjalanan yang ditempuh adalah melalui Tiga Ras melalui Aek Popo, Lae Pondom dan terus mengikuti aliran lae (sungai) Sikurang di kecamatan Pegagan Hilir dan akhirnya sampai ke Kuta Usang.  Kedatangan Pdt. Samuel Panggabean  diterima dengan hangat oleh Raja Sibayak Pakasior Manik.  Keramahan Pdt Samuel Panggabean serta keinginan untuk lebih membuka diri terhadap dunia luar maka Raja Sibayak Pakasior Manik mau membuka diri terhadap berita Injil yang dibawa oleh Pdt.Samuel Panggabean.

Pada tanggal 10 September 1905, dimulailah kebaktian pertama yang diikuti oleh Raja Sibayak Pakasior Manik beserta dengan seluruh keluarganya. Dalam kebaktian tersebut Pdt.Samuel Panggabean mengajarkan nyanyian rohani dari  Buku Ende No.248 “ Sidekah Ko Itanoh En”. Tetapi sangat disayangkan, setelah kebaktian tersebut, pekerjaan yang sudah dirintis tersebut terhenti dan tidak segera ditindak lanjuti oleh PMB.  Pdt.Samuel Panggabean pernah berjanji akan datang kembali untuk melaksanakan pembabtisan di Kuta Usang untuk Raja Sibayak Pakasior Manik beserta keluarganya  tetapi tak kunjung tiba. Hal ini mungkin disebabkan oleh lemahnya birokrasi dalam tubuh PMB, dan mungkin juga karena ketidakstabilan politik (penjajahan Belanda) ketika itu. Kenyataan tersebut membuat Raja Sibayak  Pakasior Manik sempat masuk ke agama Islam. Tentu saja yang hal itu mengakibatkan hambatan dan keterlambatan pengembangan pekabaran Injil di Pegagan. Barulah pada tahun 1912 (selang waktu 7 tahun setelah kebaktian pertama di Kuta Usang) Pdt. Samuel datang kembali dan membabtis Raja Sibayak Pakasior Manik beserta keluarganya dan dan menjadi tonggak historis berdirinya kekristenan di Suak Pegagan sebagai permulaan Injil keselamatan menyentuh suku Pakpak.


Kekristenan di Keppas

Pada tahun 1906, atas permintaan dari pemerintah kolonial Belanda kepada PMB, maka  dibukalah  sekolah  dan  pos  zending  di Sidikalang, walaupun maksud sebenarnya dari Belanda adalah demi kemudahan untuk memperluas daerah jajahan dan kemudahan untuk penangkapan Raja Sisingamangaraja XII yang bersembunyi di tanah Pakpak ketika itu.

Pada tahun itu juga pemerintah Belanda membuka jalan runding yang melintasi daerah Dolok Sanggul (Humbang Hasundutan) ke Sidikalang (Dairi) terus ke Singkil (Aceh) sekaligus juga pembangunan markas militer dan bangunan-bangunan penunjang kolonial. Karena pembangunan tersebut membutuhkan banyak tenaga kerja, maka pemerintahan kolonial Belanda memaksa penduduk  bekerja Rodi (kerja paksa), para pekerja itu ada yang berasal dari Karo,Simalungun dan Tapanuli (Toba), sebagai akibatnya terjadilah “defusi” (pembauran) kebudayaan, sosial dan agama.

Di antara pekerja Rodi tersebut sudah ada yang menganut agama Kristen, maka dengan adanya pos zending dan juga banyaknya pekerja rodi yang beragama Kristen maka pada tanggal 25 Desember 1909, dimulailah kebaktian pertama di Sidikalang dan mengadakan pembabtisan terhadap  2 orang Raja Pakpak yaitu : Raja Asah Ujung dan Raja Kummul Ujung. Merekalah kemudian memberikan tanah untuk lokasi gereja HKBP Sidikalang Kota).  

Seiring berjalannya waktu maka perkembangan kekristenan di Sidikalang terbilang sangat pesat. Anggota jemaat pada saat itu banyak didominasi oleh suku pendatang yaitu  para pekerja rodi. Jemaat yang beribadah itu kemudian diresmikan oleh HKBP sebagai gereja  HKBP di Sidikalang dengan sebutan HKBP Ressort Dairilanden, dengan Pendeta Ressort  Tuan Pdt Schreiber.


Kekristenan di Simsim

Tahun 1904, datanglah Belanda dari Boang, Aceh Selatan (Singkil sekarang) untuk mencari Raja Sisingamangaraja XII yang bersembunyi di Simsim, akan tetapi barulah pada tahun 1907 Raja Sisingamangaraja dapat ditemukan dan dibawa ke Pearaja. Efek dari kedatangan Belanda tersebut adalah terbukanya akses jalan,sehingga berdatanganlah para pedagang yang berasal dari Barus dan Melayu,di antara pedagang tersebut ada juga orang Cina (Tiongkok) dan orang Toba yang membawa dagangan berupa “oles” dan cangkul.  Salak (ibu kota Kabupaten Pakpak Bharat sekarang), merupakan lokasi pasar yang terbesar ketika itu.

Adalah Julius Hutabarat dan Musa Sibarani.  Keduanya adalah para pedagang yang rutin berjualan ke Salak (ibu kota Pakpak Bharat sekarang). Mereka sudah menjadi Kristen pada saat itu, mereka bergaul dengan sangat akrab dengan masyarakat Pakpak Simsim. Selain berdagang mereka juga mengajari penduduk tentang tata cara pertanian serta memperkenalkan sistem pertanian menetap. Musa Sibarani juga ternyata mempunyai kepandaian dalam hal medis.  Dengan banyak memberikan praktek perawatan bagi orang-orang yang sakit , serta banyaknya penderita yang disembuhkan, masyarakat banyak sekali mendapatkan manfaat.  Yang sangat berkesan pula, Musa Sibarani dalam pengobatannya selalu memulai praktek mediknya dengan berdoa kepada Tuhan.  

Musa Sibarani Sibarani menjadi icon kala itu.  Hidupnya berbeda, ibadahnya memikat, pekerjaannya mulia—warga kota Salak menjadi simpatik.  Ketertarikan warga tersebut membuat Musa Sibarani  mendapat tempat di hati marga Boang Manalu terkhusus keluarga Parseol Boangmanalu yang akhirnya  memberikan seorang puteri sebagai isteri Musa Sibarani (saat itu status Musa Sibarani sebagai duda). Perkawinan itu tentu saja memper mudah pemberitaan Injil oleh Musa Sibarani di Kota Salak.

Demi melihat perkembangan persekutuan, manalagi Musa Sibarani telah menjadi kerabat klen, maka Raja Mandalkop Boangmanalu, mengusulkan agar dibuat suatu tempat untuk mengadakan ibadah minggu dan sekolah. Maksud tersebut diberitahukan juga kepada Raja Delleng Banurea di Kuta kettang Salak, dan puji Tuhan mendapat sambutan yang baik.

Melihat perkembangan tersebut, pergilah Musa Sibarani ke Pea Raja Tarutung  untuk menjumpai Tuan Pdt.I.L.Nommensen dan menceritakan segala perkembangan yang terjadi di Simsim.  Nommensen yang bergembira mendengar kabar tersebut, lalu kemudian mengutus seorang penginjil bernama Samuel Hutahayan untuk melayani disana bersama-sama dengan Musa Sibarani. Kedatangan tersebut membuat raja Mandalkop Boangmanalu dan raja Delleng Banurea dan pengetuai-pengetuai membuat kebaktian pertama pada tahun 1907 di bale Kuta Gugung Salak.

Banyak tantangan yang datang silih berganti terutama dari orang-orang yang beragama animisme yang menyebut dirinya “SILIMIN” yang beragama “SIDAMDAM”. Mereka menyebutkan bahwa agama Kristen merupakan agama penjajah. Akan tetapi hal tersebut tidak menyurutkan umat Tuhan di Salak  untuk mendengarkan berita Injil.  Hari lepas hari semakin banyak orang Pakpak di Salak yang mau menerima berita keselamatan.  Pada tanggal 18 Februari 1911 diadakanlah pembabtisan pertama terhadap 21 orang Pakpak di Salak tersebut.  Sakramen baptisan itu dilayankan oleh Tuan Pdt Brenschmid.  Inilah 21 nama warga Pakpak Simsim yang menerima baptisan di hari yang istimewa itu: Raja Mandalkop Boangmanalu simergerar David Baongmanalu, Raja Delleng Banurea simergerar Raja salomo Banurea, Rapet Br Cibro simergerar Paulina Br Cibro, Pancur Br Sinamo simergerar Keleria Br Sinamo, Sera Br Solin Simergerar Dame br Solin, Dangel Br Berutu simergerar Mariana Br Berutu, Male Br Berutu simergerar Emma Br Berutu, Timbo Br Boangmanalu simergerar Maria Br Baongmanalu, Dumbeh br Pandeangan simergerar Hanna br Pandeangan, Pajat br Baongmanalu simergerar Dina br Boangmanalu, Titik Berutu simergerar Daniel Berutu, Umbut Banurea simergerar Petrus Banurea, Kudung Br Banurea simergerar Sofia Banurea, Menta Br Banurea simergerar Marta br Banurea, Sennang Br Berutu Simergerar Armina br Berutu, Sendok Boangmanalu simergerar Johannis Boangmanalu, Ngolu br Boangmanalu simergerar Lina br Boangmanalu, Mina Br Boangmanalu simergerar Mina br Boangmanalu, Talang Munte simergerar Fredrik Munte, Kata Banurea simergerar Samuel Banurea, Padan Br Boangmanalu simergerar Samana Br Boangmanalu. Nama mereka abadi dalam sejarah kekristenan di tanah Pakpak. 

Pada tahun 1910, datanglah Gr. Julius Manik ke Salak (beliaulah yang menjadi guru kuria pertama di gereja Salak). Ia sorang seorang guru dengan talenta musik yang cukup mumpuni.  Rupa ragam alat musik dapat di mainkannya dengan mahir seperti Poti merende (organ), sordam, seruling dan alat musik tiup lainnya.  Gr Julius  mengajarkan keahliannya itu  kepada anak-anak Pakpak.  Ssalah satu yang diajarkan adalah lagu dari Buku Ende No.178  “Roh Mo Mi Jesus”. 

Tahun 1921,  Gr. Julius Manik pindah tugas dan digantikan Gr. Justi Simamora, beliau mengajarkan berbagai kecakapan dan pengetahuan. Selain mengajarkan tentang aturan-peraturan kristen, ia juga mengajarkan Ilmu Bumi.  Pembelajaran  tersebut tentu saja semakin memajukan  pengetahuan di kota Salak.

Pada tahun 1925,  Gr. Justi Simamora pindah pelayanan dan diganti oleh Gr.Prianus Lumban Toruan.   Dua tahun berselang, pada tahun 1927  beliau digantikan oleh Gr Osman Matondang.  Gr Matondang inilah pertama sekali  mengusulkan kesempatan anak-anak Pakpak untuk bersekolah di sekolah Zending HKBP.   Anak sulung pendidikan sending tersebut  bernama  Ferdinan Banurea. Di HKBP Salak usai menyelesaikan sekolahnya. Sejak saat itu pengutusan nara didik ke sekolah zending semakin  mendapat sambutan. Tiga orang berturut-turut: Gr.Lancam  Huria Bako, Gr David Manik dan Gr Lassarus Manik berkesempatan mendalami pendidikan di sekolah Zending.

Injil menjadi perubah peradaban.  Setidaknya masyarakat Pakpak awal zending mulai menyadari hal itu.  bahwa ilmu pengetahuan yang dibawa oleh para penginjil membawa perubahan yang baik.  Konsekwensi positifnya semakin banyaklah warga Pakpak yang membuka diri untuk menerima Injil. Injil menjadi sesuatu yang dirasa berkuasa mengubah kehidupan dan meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat bahwa perkembangan yang signifikan atas pekabaran dan penerimaan Injil di tanah Simsim adalah sekitar periode 1917 – 1936, yang meliputi daerah-daerah di sekitar  Tinada, Jambu, Penggegeen, Simerpara dan Boang di Aceh Singkil.


Kekristenan di Boang (Aceh singkil)

Pekabaran Injil di Boang, merupakan suatu pekabaran injil yang penuh dengan tantangan.  Dikatakan demikian, karena di daerah tersebut mayoritas penduduk sudah memeluk agama Islam.  Tetapi Injil adalah kekuatan Allah, maka segala usaha dan niat yang besar yang didorong oleh kuasa Roh Kudus, pekabaran Injil di suak Boang dapat berjalan. Adalah  Inget Wilfried Banurea yang terpanggil mengabarkan injil ke Boang. Pada tahun 1932,  penginjil  ini datang dan bekerja di lipat kajang sebagai seorang tukang jahit. Kebaikan  hati dan keramahan tutur sapa  membuat dirinya dapat diterima di sana. Dalam pememberitakan Injil di daerah tersebut, ia memakai dua metode yaitu melatih kecakapan musik dan membuka kolportase rohani. Sore hingga malam hari digunakan mengajar musik kepada pemuda-pemudi. Ia memilih lagu-lagu rohani yang menggugah hati sehingga menarik perhatian dan keinginan mereka.  Ia juga menjelaskan asal lagu dan tujuan lagu-lagu tersebut didendangkan.

Membuka kolportase (pengedaran buku-buku rohani) dimaksudkan agar melalui literatur yang ada di kolportase tersebut, memudahkan warga setempat untuk memahami pengajaran yang beliau ajarkan. Untuk lebih memudahkan akses, kolportase tersebut dibuka di Kuta Kerangen di mana kota tersebut berada tepat di perlintasan perkampungan. Dengan segala upaya dan tujuan untuk mengenalkan terang Injil terhadap warga Aceh Singkil, maka pada tahun 1932 didirikanlah gedung gereja di Kuta Kerangen atas seizin pemerintah kolonial Belanda atas prakarsa   Inget Wilfried Banurea dan Tuan E.Riiner (tuan kebun berkebangsaan Belgia). Gedung gereja dengan ukuran 8 x 14 m diresmikan pada tanggal 21 Juli 1935 oleh Ephorus Langrebe dari HKBP. Demikianlah perkembangan kekristenan di Aceh Singkil berlangsung dengan pesat dalam kurun waktu 1932 – 1942. Dengan tersebarnya Injil kedaerah-daerah sekitar Kuta Kerangen, yang meliputi  desa : Siatas, Liang Barat, Tuhtuhen, Mandumpang dan Kerras, maka mulailah sejarah perkembangan gereja di suku pakpak Suak Boang.  Perkembangan tersebut juga disebabkan karena dalam kurun waktu itu tidak ada tantangan secara terbuka dari masyarakat non Kristen di sana, kurun waktu itulah  proses penginjilan terjadi dengan  yang sangat luar biasa di Aceh Selatan (sekarang = Aceh Singkil). Sebenarnya banyak orang yang tidak menginginkan perkembangan kekristenan di tanah Singkil dan sekitarnya, akan tetapi oleh karena adanya bantuan dari Pemerintah kolonial Belanda maka tidak ada gangguan yang berarti.   Barulah  di kemudian hari tantangan dan gangguan untuk kemajuan kekristenan di Singkil mulai menggeliat.  Seiring dengan semakin melemahnya posisi politik Kolonial Belanda di sana  oleh kedatangan pemerintah Jepang dan juga didorong  oleh ketidak inginan Jepang dengan perkembangan Injil, maka kekristenan mulai semakin mendapat tekanan.  Jepang  menilai Injil identik dengan bangsa Eropa yang menjadi penjajah Asia pada saat itu.

Peristiwa menegangkan pertama kali terjadi  pada tanggal 30 Maret 1942. Ada beberapa orang yang tidak dikenal datang dengan maksud untuk menculik Inget Wilfried Banurea. Akan tetapi oleh karena pertolongan Tuhan, pada saat genting itu Evangelis Inget Wilfried Banurea dapat lolos dari sergapan orang banyak yang hendak menculiknya.  Wilfrid melarikan diri ke Salak. Sesampainya di Salak, oleh desakan orang tuanya maka Inget Wilfried Banurea menikah dengan Ruminta.L.Br Boang Manalu pada tanggal 21 April 1942,dan melayani di gereja Salak,kemudian pada tahun 1945(setelah proklamasi kemerdekaan),beliau kembali ke Kuta Kerangan dengan membawa keluarga untuk melayani di gereja yang ada disana,akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena pada tahun 1946,untuk kedua kalinya beliau kembali mendapat tantangan karena rumahnya dibakar dan terpaksa melarikan diri ke Salak. Oleh semua jasanya di dalam pengijinlan di daerah Aceh Singkil, maka pimpinan pusat HKBP mengangkat beliau menjadi seorang Evanggelis pada tanggal 1 April 1946 dan melayani di HKBP Resort Salak.  Ia melayani di Salak sampai  tahun 1950.  Dan untuk lebih memaksimalkan pelayanannya, maka oleh Pimpinan HKBP, ia dipanggil untuk mengikuti kursus Evanggelis ke Pearaja Tarutung selama 6 bulan.

Sampai akhir hayatnya  Ev.Inget Wilfried Banurea tetap setia melayani Tuhan dengan penuh semangat untuk memberitakan Injil walaupun banyak tantangan yang dihadapinya.  Keyakinannya bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan  orang yang selalu setia bekerja di ladangnya, sehingga tugas panggilan untuk melayani di ladang Tuhan dikerjakan dengan sangat tulus.    Ev.I.W.Banurea  pensiun dari tugas pelayanan pada penghujung  tahun 1969. Pensiun secara formal  tidak menyurutkan pelayannya  melainkan tetap  memberikan seluruh hati dan pikiran untuk kerajaan Allah.  Cita-cita sucinya untuk berkunjung  ke gereja di Kuta kerangan Aceh Singkil akhirnya Tuhan  di kabulkan dan Tuhan memberikan kesempatan padanya untuk berkunjung ke daerah tersebut pada  tahun 1973.  Dalam perluasan penginjilan ini, Ev.Inget Wilfried Banurea sadar bahwa gereja di Aceh Singkil berbeda dengan kebanyakan gereja lainnya. Ini disebabkan karena tempat yang sangat tidak kondusif bagi  pertumbuhan dan perkembangan kekristenan. Begitu banyak tantangan yang terjadi, mulai tahun 1932, 1946 kemudian tahun 1958 dan  1968 pengungsian karena ketidak inginan dari beberapa orang akan berita Injil, kemudian tahun 1978-1980 pembakaran gereja dan pengungsian, tetapi walaupun demikian banyaknya tantangan  jemaat tetap bertumbuh terus kearah kedewasaan iman. Penderitaan membuat gereja Tuhan semakin kuat dalam iman dan penyerahan diri total kepada-Nya.

Pada tanggal 10 Mei 1980,diumur 70 tahun Ev, I.W. Banurea meninggal dunia, mengingat jasa-jasanya terhadap pertumbuhan dan perkembangan gereja, sebagai bentuk pengargaan atas pelayanannya , beliau dikuburkan pada tanggal 12 Mei 1980 di kompleks gereja HKBP Salak yang kini telah menjadi GKPPD Salak Kota.  Kuburan beliau bersama dengan kuburan Evangelis Ferdinan Banurea dijadikan ikon penginjilan di tanah Pakpak khususnya Simsim dan  Boang.  Demikianlah napak tilas perjalanan masuknya penginjilan di tanah Pakpak.  Sejauh rangkaian yang telah dipaparkan bahwa penginjilan di tanah Pakpak adalah berhubungan langsung dengan misi zending HKBP sehingga  orang Kristen Pakpak yang berdiam di tanah leluhurnya sejauh itu bernaung dalam organisasi gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), dengan menggunakan bahasa resmi peribadahan yaitu bahasa Toba.


Kekristenan di Pakpak Menuju Kemandirian

Dengan kedatangan berita Injil ke tanah Pakpak, dan oleh karena penerimaan akan Injil yang sangat luar biasa, maka timbullah keinginan bagi orang Pakpak yang sudah beragama Kristen untuk mendengarkan Injil dalam bahasanya sendiri. Pada tahun 1957, atas  inisiatif  tuan Pdt Schildman gagasan baru itu mengristal dengan sebuah tindakan yaitu mengumpulkan tokoh-tokoh Kristen Pakpak di Sukaramai. Mereka adalah Raja Elias Ujung, Raja Waldemar Bako, Ev. Inget Wilfrid Banurea,  Gr. Cyrus Limbong,  Gr.Tartius Limbong, Ketua Musa Sinamo, St.Gustaf Tinambunan.

Hasil daripada pertemuan itu mencetuskan keinginan bersama yakni penterjemahan Alkitab kedalam bahasa Pakpak dengan nama Padan Siarnia dekket Padan Sirembaru Sinipejoppok.  Proses penterjemahan dimulai pada tahun 1958. 

Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka ditunjuklah nama-nama anggota team penterjemah yakni : Gr.Lancam Bako, Gr.Hendrik Hasugian dan Gr.Tartius Limbong. Sementara untuk biaya pencetakan kitab “Padan siarnia dekket Padan sirembaru sinipejoppok”, tersebut, Tuan Pdt.Schildman akan berupaya untuk mencarinya.

Dengan adanya pencetakan kitab tersebut,maka semangat untuk mendirikan gereja yang mandiri dan lepas dari zending HKBP semakin tumbuh. Atas penyertaan Tuhan maka beberapa tokoh Kristen Pakpak yang berada di Sumbul Pegagan mempunyai keinginan untuk membuat suatu gereja yang memakai bahasa Pakpak, sebab selama ini ibadah minggu dan segala kegiatan kekristenan, katekisasi dan pengajaran sidi berlangsung dalam bahasa Batak Toba.

Di penghujung tahun 1962 atas inisiatif  dari Raja Herman Lingga dan Kota Raja Manik, diadakanlah rapat tokoh-tokoh Kristen pakpak yang berada di Sumbul Pegagan sekitarnya,  di rumah Fri Deling Manik  (Juma Arke  Sumbul). Rapat menghasilkan keputusan antara lain : Mengutus Raja Herman Lingga, Kota Raja Manik, Ludin Manik, menghadap  kepada Pendeta HKBP Resort Sumbul, Pdt W.Lumban Toruan,untuk meminta izin mendirikan gereja HKBP Simerkata Pakpak.  Pendeta Ressort Sumbul sangat mengapresiasi dan menyambut baik rencana tersebut. Berhubung karena gedung gereja belum ada, serta untuk mempersiapkan rencana yang lebih matang maka Pendeta Ressort memberi kesempatan dan tempat kepada warga Pakpak untuk membuat suatu Evanggelisasi (persodipen) setiap malam minggu di gedong gereja HKBP Sumbul, sesuai dengan surat Pendeta Ressort Sumbul No.60/Res/62 HKBP tertanggal 31 Oktober 1962.  Evanggelisasi berlangsung selama tiga bulan yang dipimpin oleh Gr.Lancam Huria Bako dan Gr.Tertius Lembeng dari Sidikalang.  Ini terjadi  karena belum adanya “pengendeng”, dari warga Kristen Pakpak yang ada di Sumbul.

Sebagai bentuk kesiapan dari warga Pakpak Sumbul untuk mendirikan gereja, maka pada tanggal 23 Desember 1962, diadakanlah Perayaan Natal Bersama warga Pakpak Sumbul sekitarnya.  Melalui perayaan Natal tersebut nampaklah antusiasme dari warga. Hal tersebut semakin menguatkan semangat untuk mendirikan gereja yang beridentitaskan Pakpak.

Tanggal 2 Januari 1963, diadakanlah Evanggelisasi di rumah Boven Lingga. Ibadah dilanjutkan dengan rapat untuk persiapan berdirinya gereja Pakpak yang mandiri dan terlepas dari HKBP Ressort Sumbul.  Pada tanggal 5 Januari 1963, kembali diadakan rapat di rumah Kota Raja Manik yang dihadiri oleh : Gr.Lancam Huria Bako,Gr.Tertius Lembeng, Ukum Lingga, Ludin Manik,Kota Raja Manik, Raja Herman Lingga dan Gr Darisen Siregar (Guru Jemaat HKBP Sumbul).  Rapat memufakati serta memutuskan bahwa  warga Pakpak Kristen  sumbul tidak lagi mengadakan ibadah di HKBP Sumbul akan tetapi melaksanakan ibadah sendiri.  Malam itu juga diutuslah Ludin Manik dan Gr. Darisen Siregar untuk menghadap Pendeta HKBP Ressort Sumbul yang dengan segera pula pada malam itu memberi persetujuan dengan menerbitkan surat persetujuan Pendeta HKBP Ressort Sumbul No.67/HKBP/63, tertanggal 5 Januari 1963.   Untuk sementara  SMP Negeri Sumbul dipakai sebagai tempat ibadah.  Kebaktian pertama setelah pisah dari HKBP Sumbul dimulai pada tanggal 6 Januari 1963 yang dipimpin oleh Gr.Lancam Huria Bako dan Gr.Tertius Lembeng(keduanya dari Sidikalang) dibantu oleh St.Daniel Sinamo(sintua dari warga pakpak Sumbul).  Saat itu jumlah sendihi (jemaat) telah mencapai 44 kepala keluarga,dengan sebutan HKBP Simerkata Pakpak Sumbul, pagaran dari HKBP Sumbul.

Pada tanggal 18 Februari 1963 berangkatlah Wal Mantas Kabeaken dan Raja Herman Lingga ke kantor pusat HKBP di Pearaja Tarutung untuk menjelaskan maksud dan tujuan surat yang telah dikirimkan sebelumnya  ke Ephorus HKBP dan direspon oleh Pimpinan pusat  HKBP mengirimkan balasan  surat pada tanggal 20 Februari 1963 yang ditanda tangani oleh Ds.G.Siahaan yang menyatakan bahwa Ephorus HKBP akan datang menghadiri acara pesta sampang ate tersebut.

Hari yang ditunggu-tunggu dan   setelah melalui perencanaan yang matang, maka pada tanggal 3 maret 1963 dilangsungkanlah pesta “Sampang ate” sekaligus pesta peresmian Kuria HKBP Simerkata Pakpak Dairi di Sumbul oleh Ephorus HKBP Ds.Tunggul S.Sihombing, yang dilaksanakan di Onan Lama Sumbul

Semangat untuk mandiri dengan mendirikan gereja yang memakai bahasa Pakpak sebagai bahasa pengantar di dalam acara ibadah dan gereja yang betul-betul membawa semangat akan Pakpak.  Didorong oleh keinginan untuk memuji dan memuliakan Tuhan dalam Ibadah dengan menggunakan bahasa Pakpak tersebut  maka  pada periode tahun 1963 -1965, diterjemahkanlah buku Ende sebanyak 200 nomor lagu.  

Kabar akan peresmian gereja HKBP Simerkata Pakpak Sumbul yang sudah diresmikan oleh pucuk pimpinan HKBP juga menjalar ke Sidikalang sebagai ibukota kabupaten Dairi.  Hal ini terbukti dengan terlebih dahulu mengadakan perpelungen  serser bages yang berlangsung sampai tanggal 17 Maret 1965.  Kemudian atas kesepakatan bersama, maka pada tanggal 21 Maret 1965 bertempat di gedong SD HKBP Sidikalang yang dipimpin oleh Gr.Lancam Huria Bako dan ketua Wal Mantas Kabeaken (mantan SEKDA) ,diadakan pertemuan untuk membahas keinginan adanya suatu gereja yang mengatas namakan suku Pakpak di Sidikalang.  Di dalam pertemuan itu pula dihasilkan beberapa keputusan yaitu : pertama,  menentukan tanggal ibadah minggu pertama, menunggu peresmian Preses dan sekaligus pendeta resort HKBP Sidikalang, dalam hal ini Pdt. H. Rajagukguk.   Kedua, menginfentarisir secara tepat daftar dan jumlah sendihi kuria.  Ketiga, menentukan nama-nama pengendeng kuria  yang pada saat itu ditetapkan sebagai berikut :  Gr. L.H. bako sebagai Guru Huria,  St. Tahir Kalang Sinamo sebagai bendahara Kuria, St. Jorbeh Berutu sebagai anggota, St. L. Angkat sebagai anggota,  dan St. Janggil Josia Berutu sebagai anggota.

Berdasarkan  keputusan pertemuan tersebut, maka terlaksanalah kebaktian minggu pertama bagi kalangan Kristen Pakpak yang berdomisili di Sidikalang sekitarnya tepat pada hari Minggu, tanggal 18 April 1965, bertempat di gedong SMA Negeri Sidikalang (Kantor dinas PU, sekarang) yang dipimpin oleh Pdt.H.Rajagukguk dan St.Christian Simatupang. Begitu besar kasih Tuhan Allah akan umatnya masyarakat Pakpak di Sidikalang.  Semenjak ibadah pertama tersebut semakin antusiaslah warga Pakpak yang ada di Sidikalang sekitarnya untuk mengikuti ibadah minggu. Kesadaran untuk memiliki gedung gereja yang permanen  tumbuh maka  dibentuklah panitia pembangunan gereja HKBP Simerkata Pakpak Dairi  Sidikalang.

Atas usaha panitia dan juga kesadaran warga jemaat maka dalam waktu yang singkat terkumpullah dana serta tersedianya pertapakan untuk gedung gereja dengan ukuran 50 X 40 m dari PEMKAB Dairi cq Kantor Agraria (Pertanahan). Di atas tanah tersebut dibangun gedung gereja HBP Simerkata Pakpak dengan ukuran 12 X 18 M.

HKBP Simerkata Pakpak Sidikalang diresmikan pada tanggal 23-25 Juli 1965 oleh Ephorus HKBP Ds.Tunggul S Sihombing. Acara peresmian dipindahkan ke lokasi SMP N 2 Sidikalang mengingat besarnya antusias warga jemaat untuk hadir.  Hadir dalam acara tersebut tuan Pdt.W.Lemp, Praeses HKBP Distrik Dairi Pdt.H.Rajagukguk,  juga Pendeta dan Pengendeng dari HKBP Resort Sidikalang sebagai tanda persatuan didalam Kristus kepala gereja.

Seiring perjalanan  waktu, pelayanan semakin diintensifkan  dengan melakukan  perkunjungan-perkunjungan ke rumah rumah jemaat dan warga Pakpak. Perkunjungan itu bertujuan untuk mensosialisasikan tentang tugas dan tanggung jawab sebagai warga jemaat. Upaya tersebut mendapat sambutan positif dari  jemaat  yang dibuktikan dengan dengan dibangunnya rumah dinas Pendeta dan Guru Jemaat.

Perkembangan kekristenan dan kemandirian untuk memuji Tuhan dengan bahasa Pakpak juga terjadi di daerah-daerah sekitar Sidikalang dan Sumbul Pegagan. Di Lingga Tengah, Sibengkurung, Lae Salak, Sikunihan  gereja Simerkata Pakpak berhasil didirikan. Melihat perkembangan tersebut maka kemudian berangkatlah utusan ke Pearaja Tarutung untuk menjumpai Ompui Ephorus HKBP.  Inilah utusan yang diberangkatkan ke Pea Raja:  Pdt.H.Rajagukguk, Pdt.Malim Bancin, Pdt.Jenda Sinamo, Pdt.Bastian Padang dan St. Mangantar Dairi Solin.   Tujuan audensi mereka adalah memohon agar HKBP Simerkata pakpak Sidikalang, dijadikan sebagai Resort penuh. Ephorus HKBP menyambut baik usul delegasi dan kemudian meresmikan HKBP Simerkata Pakpak sebagai resort penuh pada tanggal 20 Agustus 1972.  Pdt.Johansen Tumangger sebagai Pendeta Resort pertama dipercayakan melayani di resort baru ini. 

Pada tanggal 18 Okrober 1970, oleh gelora semangat yang besar dari warga Kristen Pakpak yang berdomisili di kota Medan dan Sekitarnya, diresmikan pula HKBP Simerkata Pakpak Padang Bulan Medan yang ber Ressort ke HKBP Simerkata Pakpak Sidikalang.

Dikarenakan semakin banyaknya gereja HKBP Simerkata Pakpak yang bertumbuh dan berkembang, keinginan untuk melangkah maju semakin mengemuka. Timbullah cita-cita untuk menjadikan HKBP Simerkata Pakpak menjadi satu distrik.   Untuk mewujudkan rencana dan cita-cita tersebut maka diadakanlah beberapa kali pertemuan yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Kristen Pakpak juga para utusan Ressort dari Sumbul, Sidikalang, Salak, Sukaramai dan Aceh Singkil untuk membahas persiapan Pembentukan Panitia permanen HKBP Simerkata Pakpak  tersebut.   Mengikuti petunjuk pucuk pimpinan HKBP di Pearaja Tarutung tentang tatacara pembentukan distrik di HKBP serta pendanaan yang diperlukan, maka melalui rapat tanggal 16-18 November 1974 di Sukaramai dihasilkanlah keputusan penting sebagai berikut:  Pertama, disetujuinya HKBP Resort Salak, HKBP Resort Kerajaan, HKBP Resort Kuta Krangen, menjadi satu Distrik dengan rencana nama HKBP Distrik Simerkata Pakpak.   Kedua, memilih dan mengangkat Panitia Peresmian HKBP Distrik Simerkata Pakpak dengan susunan panitia sebagai berikut :  Wal Mantas Kabeaken (Ketua Umum),  Andreas Hasugian (Wakil Ketua Umum),  Gr. Lancam Huria Bako (Ketua I), Evangelis Ingat Wilfrid Banurea (Ketua II), Djauli  Padang Batanghari  (Sekretaris Umum), St. S. Cukup Bancin (Wakil Sekretaris Umum), Djamin Banurea, St. T.K. Sinamo, Djerguk Solfried Padang Batanghari (masing-masing sebagai staf sekretariat),  St. W. Solin (bendahara), Gr. A. Sirait (Wakil bendahara),  Gr. T. Fardolin Kabeaken, Gr. Cyrus Lembeng, St. Sakkap Manik (Masing-masing sebagai anggota).

Dengan cepat dan penuh semangat Panitia bekerja untuk mewujudkan cita-cita tersebut, dan akhirnya tepat pada hari Minggu,tanggal 26 Juni 1976 oleh pucuk pimpinan HKBP,Ompui Ephorus Ds.G.H.M.Siahaan beserta dengan rombongan datang untuk meresmikan HKBP Distrik  persiapan Simerkata Pakpak dan menabalkan Pdt.Ulim Saripin Manik sebagai pejabat Praeses.

Sesuai dengan eveluasi dan penilaian yang dilakukan oleh team komisi pusat HKBP untuk memeriksa kesiapan dan persiapan-persiapan yang diperlukan sebagaimana layaknya yang dibutuhkan untuk berdirinya suatu distrik yang defenitif,maka pada tanggal 24 Juni 1979 oleh Ompui Ephorus Ds.G.H.M.Siahaan maka resmilah HKBP simerkata Pakpak menjadi suatu distrik (disebut sebagai HKBP Distrik XIV Simerkata Pakpak Dairi), dan menabalkan Pdt.Ulim Saripin Manik sebagai Praeses penuh.  Dengan peresmian itu juga sekaligus pengakuan awal akan eksistensi suku Pakpak sebagai salah satu kekayaan dari keberagaman suku yang ada di Indonesia juga menjadi bukti karya penyelamatan Tuhan Allah terhadap seluruh bangsa-bangsa.

Dengan berjalannya kekristenan di tanah Pakpak maka warga Pakpak Kristen dapat menjadi terang dan garam dunia ini seperti maksud Kristus memanggilnya. HKBP Distrik XIV Simerkata Pakpak menjadi bentuk keinginan warga kristen Pakpak pada masa itu untuk memuji dan memuliakan Tuhan dengan adat, budaya dan bahasa Pakpak dan sebagai benih untuk menjadi gereja yang mandiri. Pada bulan September 1984,semakin nyatalah kasih Tuhan Allah kepada umatnya warga kristen  Pakpak, karena pada periode tersebut Pakpak sudah memiliki Kitab Perjanjian baru berbahasa Pakpak yang disebut dengan “Padan Sirembaru”,yang diterjemahkan oleh Gr.Djauli Padang Batanghari, hal tersebut terjadi dengan adanya dukungan penuh dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), di dalam proses penterjemahan dan pencetakan kitab, melalui pencetakan Kitab “Padan Sirembaru” tersebut semakin menambahi literatur rohani Pakpak sebagai wujud nyata akan proses dan penyokong akan kemandiriaan gereja Pakpak.

Bagikan Postingan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *